Tulis & Tekan Enter
Logo
images

4 FAKTA THE CATCHER IN THE RYE, BUKU YANG DIBACA PEMBUNUH JOHN LENNON

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Bagi pecinta The Beatles, nama John Lennon atau John Winston Ono Lennon ini tentu tidak asing lagi nih, Unifers. Sebagai penyanyi, pencipta lagu, penulis, dan aktivis politik, John Lennon memang meninggalkan ingatan yang cukup melekat pada para penggemarnya. Lahir pada 9 Oktober 1940 di Liverpool Britania Raya, John Lennon akhirnya meninggal di tangan penggemarnya sendiri, David Chapman setelah ditembaki berulang kali pada 8 Desember 1980 di The Dakota, Kota New York, Amerika.

Mungkin tindakan David Chapman agak tidak masuk akal bagi banyak orang. Bayangkan saja, mana ada seorang penggemar mau menghabisi orang yang disukainya, orang yang dilihatnya dari layar kaca, orang yang lagunya diputar di mana-mana. Tapi, manusia memang tidak bisa ditebak. Nyatanya, David Chapman melakukan itu. Menunjukkan sisi lain kebringasan manusia.

Apa yang menarik adalah ketika Chapman berjalan santai setelah menembaki John Lennon, Chapman menjatuhkan pistolnya, membaca buku The Catcher in the Rye, dan berlalu di tengah kerumuman manusia. Atas perbuatannya, David dijatuhi hukuman penjara 20 tahun sampai seumur hidup pada 1981 lalu.

Sampai di sini kamu mungkin akan menduga-duga, apakah buku The Catcher in the Rye itu memengaruhi Chapman bertindak sedemikian gilanya? Nah, berikut kami paparkan 5 fakta menarik soal buku tersebut.

1. The Catcher in the Rye Menjadi Novel Terlarang di Amerika

Sebenarnya ada banyak buku atau bahan bacaan lainnya yang dilarang di Amerika. Namun novel The Catcher in the Rye ini menjadi salah satu dari 10 buku yang dilarang, tepatnya di sekolah Amerika. Pasalnya, banyak terdapat kata-kata tak senonoh, cabul, dan cenderung pada aktivitas negatif dalam buku ini.

Anak-anak yang dipandang belum mampu memilah mana yang baik dan buruk, lantas diarahkan oleh pemerintah untuk tidak membaca buku ini. Novel besutan Slinger ini pun harus berkali-kali ditendang sejak penerbitan pertamanya pada 1951.

2. Sinopsis The Catcher in the Rye

Secara garis besar, novel ini bercerita bagaimana kegelisahan hidup yang dialami oleh tokoh utamanya, Holden Caulfied. Caulfied merupakan anak laki-laki di bawah umur yang kerap gelisah dan merasa terjebak dalam sistem hidup yang saat ini dijalaninya. Ia menganggap itu semua bertolak belakang dengannya.

“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu”

Banyak sekali aktivitas negatif yang dilakukan oleh Caulfied ini. Padahal jika dilihat lagi, Caulfied berasal dari keluarga yang baik. Ia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya seorang penulis yang kini tinggal di Hollywood. Ia pun senang meneriaki kakaknya dengan umpatan yang tidak sopan karena diduga membenci film-film keluaran tempat di mana kini kakaknya tinggal.

Berbeda dengan perilakunya ke kakaknya, Caulfied di satu sisi juga sangat menyayangi adik perempuannya. Ia pun selalu memuji dan bermain hangat dengan adiknya. Urusan pendidikan Caulfied pun amburadul. Ia sampai dikeluarkan tanpa memberitahu kedua orang tuanya.

“Aku selalu membayangkan ada begitu banyak anak kecil bermain-main di sebuah ladang gandum yang luas. Ribuan anak kecil dan tak satu pun orang—maksudku orang dewasa—ada di sekitar tempat itu. Kecuali aku sendiri. Dan aku berdiri di pinggir sebuah tebing yang mengerikan. Yang harus kulakukan adalah menangkap semua anak begitu mereka mulai menghambur ke pinggir tebing—maksudku kalau mereka berlarian dan tidak memperhatikan arah. Lalu aku akan muncul entah dari mana dan menangkap mereka. Itu yang akan kulakukan sepanjang hari. Aku hanya ingin menjadi seorang tukang tangkap, si penangkap, sang penyelamat di ladang gandum. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi itu satu-satunya hal yang ingin aku lakukan. Aku tahu ini gila..”

3. Larangan Membaca Buku The Catcher in the Rye Bagi Banyak Orang

Sampai di sini kamu mungkin sudah paham, mengapa buku ini dilarang di Amerika, utamanya di sekolah-sekolah. Karena pemeran utama dalam buku adalah seorang anak lelaki, yang kritis, bengal, dan selalu tak merasa cocok berada dengan orang-orang di sekitarnya, berada dengan diri dan kondisinya saat ini.

Bagi banyak orang yang mengulas buku ini, The Catcher in the Rye amat menyeramkan bagi orang yang lembut dan tidak suka mendengar umpatan. Maka jika kamu salah satunya, tidak perlu mencari tahu lagi soal buku ini ya. Tidak perlu penasaran sama bukunya hanya karena pada sampul belakang tidak ada sinopsis seperti buku-buku pada umumnya. Sebab kamu akan merasa tidak nyaman dan mungkin kesal yang berkepanjangan.

4. The Catcher in the Rye Masuk Kategori Buku Terbaik dan Berpengaruh Sepanjang Masa

Sebenarnya buku ini masuk dalam daftar 100 Best Novel of All Time. Di mana tentu saja ketika kita membicarakan bagaimana sebuah karya sastra hadir, kita tidak boleh melepaskannya dari konteks kapan karya itu dibuat. Karya yang berlatar di Amerika pada 1940 dan pertama kali terbit pada 1051 ini memang dinilai cukup fenomenal.

Bayangkan saja, di masa itu, orang-orang pasca Perang Dunia II mengalami masa-masa yang tidak mudah, punya banyak aturan, dan hidup menempanya dengan sangat keras. Tiba-tiba di antara kebimbangan yang terjadi, muncul seorang anak lelaki yang menentang norma, beropini seenaknya, dan melampaui batas-batas kesusilaan.

Sebuah buku yang menghadirkan karakter pembangkang seperti Caulfied dianggap sebagai gebrakan baru, tentu saja, sekali lagi, di masa di mana karya ini lahir. Unifers, kita harus mengingat jika karya ini lahir di mana kebebasan berpendapat itu tidak ada dan sesuatu yang dianggap tabu. Jadi jika karya ini lahir di 2021 ini, ia mungkin hanya akan menjadi buku yang biasa saja. Buku yang menceritakan anak kecil laki-laki yang cerewet dan terlalu banyak protes.

Jadi, apa kamu penasaran mau baca bukunya langsung biar dapat jawaban kenapa Chapman membunuh John Lennon?


TAG

Tinggalkan Komentar