Tulis & Tekan Enter
Logo
images

DARI RADIKALISME MENUJU TERORISME

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Hari ini diperingati sebagai Hari Internasional dan Penghargaan untuk Korban Terorisme, nih, Unifers. Tujuannya adalah untuk mengenang dan memberikan penghormatan kepada korban terorisme dan penyintas terorisme yang beberapa masih bertahan hingga hari ini. Tidak dapat dipungkiri, ekstremisme kekerasan tersebut tentu menyisakan trauma dan duka mendalam kepada para korban dan penyintas. Apalagi tentu saja masih lekat diingatan kita semua, Maret 2021 lalu pengeboman kembali terjadi di Gereja Katedral Makassar, sesaat ketika semua jemaat pulang beribadah.

Setelah heboh pengeboman, banyak sekali media yang mulai menulis soal informasi tersebut dengan menggunakan istilah terorisme dan radikalisme. Tapi sebenarnya, Unifers, kedua istilah ini berbeda sekali loh. Kalau disalahartikan, bisa jadi kita juga cepat sekali menghakimi seseorang. Lanas apa sih bedanya? Berikut adalah penjabarannya.

Secara Pengertian

Radikalisme menurut Center for the Prevention of Radicalization Leading to Violence (2018) dijelaskan sebagai proses radikalisasi dimana orang mengadopsi sistem kepercayaan yang ekstrem, termasuk keinginan untuk menggunakan, mendukung, dan memfasilitasi kejahatan dengan tujuan untuk mempromosikan ideologi, proyek politik, dan perubahan sosial.

Sementara secara sederhana, Bartol dan Bartol (2017) menerjemahkan radikalisasi sebagai proses indoktrinasi terhadap inividu sehingga dia menerima ideologi dan misi kelomopok radikal tertentu. Radikalisme pun secara harfiah diartikan paham atau aliran yang radikal dalam bidang politik, paham, atau keinginan yang menginginkan perubahan dan pembaharuan sosial dengan cara kekerasan atau drastis, dan sikap ekstrim.

Kalau terorisme sendiri diartikan secara harfiah sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama politik) dan praktik tindakan teror. Jadi kalau radikalisme adalah sistem yang mengarah pada indoktrinasi terhadap individu, maka terorisme lebih pada pengenalan beberapa bentuk kekerasan yang dianggap mampu meneror masyarakat untuk memperingatkannya terhadap sesuatu.

Semua yang Radikal, Belum Tentu Teroris

Tapi Unifers, tidak semua orang radikal yang ternyata bisa menjadi teroris. Pertama, banyak orang radikal tidak melakukan kekerasan dikarenaan faktor dinamika kehidupan personal yang berbeda. Kedua, ada proses bertingkat yang harus dilalui sebelum menjadi teroris. Ketiga, semua teroris sudah tentu memiliki paham-paham radikalisme, namun tdiak semua orang-orang radikal menjadi teroris.

Jadi besok-besok kamu sudah tahu, bukan apa beda keduanya? Jangan sampai salah ya. Semoga membantu!


TAG

Tinggalkan Komentar