Tulis & Tekan Enter
Logo
images

HARI MASYARAKAT ADAT INTERNASIONAL: MEMBINCANGKAN PERIHAL YANG “PUSAT” DAN YANG “MARGIN”

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Selamat hari masyarakat adat internasional, Unifers! Ketika menyebut soal masyarakat adat, kamu yang berada di wilayah Sulawesi tentu akan langsung mengingat Kajang Dalam sebagai salah satu bagian masyarakat adat yang masih ada hingga hari ini. Saat kamu sedang membaca ini, masyarakat adat di Kinipan Kalimantan Tengah sedang memperjuangkan tanahnya yang dirampas. Saat kamu sedang membaca ini, ibu-ibu Sunda Wiwitan mungkin sedang menangis karena anaknya sakit dan tidak bisa dijamin oleh negara karena KTP yang mereka miliki tidak mencantumkan kolom agama.

Permasalahan di Indonesia yang begitu luas ini ada banyak sekali. Kalau kemarin kamu sudah membaca bagaimana hutan masyarakat adat dialihkan menjadi kebun kelapa sawit, kalau kamu gemar nonton film-film dokumenter soal masyarakat adat dan betapa susahnya mereka mengakses haknya sebagai warga negara karena tidak punya kartu tanda penduduk, dan kalau kamu mungkin mengikuti akun Generasi Pintar (Genpin) yang bercita-cita mewujudkan Indonesia yang inklusi terhadap kelompok rentan, seperti masyarakat adat, kamu mungkin akan menyadari satu hal. Masyarakat adat adalah si margin yang habis-habisan direpresentasikan oleh media, yang habis-habisan direpresentasikan sebebas-bebasnya oleh mereka yang di pusat. Kita.

Viral Food Vlogger Mengatakan Ikan Kuah Kuning di Tanimbar Rasanya Tidak Enak

Baru-baru ini di semua media sosial heboh soal Food Vlogger yang bercerita pergi ke daerah di Tanimbar dan merasa ikan kuah kuning di sana tidak enak. Secara jelas, begini katanya.

“Gue pernah ke satu daerah di Maluku Tenggara, namanya Tanimbar. Di mana nyaris tidak ada orang yang pernah datang ke sana karena itu jauh banget dan terpencil. Penduduknya cuma 500 orang. Makanannya ga enak. Nah pas gue liat, misalnya ibu masak apa? Masak ikan kuah kuning. Hari ini sama besok masaknya dua-duanya kuah kuning. Bumbunya bisa beda, rasanya bisa beda, dua-duanya ga enak. Tapi pas ngobrol-ngobrol sama mereka, gue lebih percaya bahwa oh ini karena tidak ada yang menularkan tradisi budaya makanan.”

Sudah sejak lama, masyarakat adat memang selalu dipandang sebelah mata. Hanya karena mereka tidak mengonsumsi nasi, masyarakat adat di Papua dikatakan tidak modern. Negara tiba-tiba merasa perlu untuk membuka sawah di sana, meski itu berarti membabat habis gunung-gunung sakral dan hutan-hutan sagu mereka. Sagu yang tidak perlu ditanam, tapi tumbuh sendiri dan mampu menghidupi satu keluarga yang terdiri dari 4 orang selama 1 minggu lamanya. Kamu bisa menyaksikan lebih lanjut di Youtube Watchdoc Image dengan judul The Mahuzes.

Kembali ke persoalan Food Vlogger tadi. Banyak yang menyayangkan bagaimana dia berbicara dengan menggunakan kacamatanya sebagai si pusat. Sementara dengan lantang membicarakan soal tidak enaknya makanan yang dia temukan di Tanimbar. Kata-kata memang senjata paling mematikan. Kamu bisa melihat kalimat yang kami tebalkan.

Jarak yang jauh dan terpencil adalah dari kacamatanya sebagai pendatang. Padahal seperti tulisan Talucu Lidah di Ikan Kuah Kuning milik Tamara Soukotta di PotretMaluku.id, apa yang dihitung sebagai “orang” dan apa yang dilihat sebagai “jauh” dan “terpencil” bisa jadi karena si Food Vlogger ini datang dari daerah “maju” sana. Kalau dari tetangga pulau tentu tidak seperti itu.

Apa yang Bermasalah dari Kasus ini?

Ketika kasus ini mencuat, ada dua kubu yang punya massa hampir sama banyak. Ada yang menyayangkan pernyataan Food Vlogger tadi, tapi ada pula yang membelanya karena berpegang kepada hak kebebasan berpendapat soal enak atau tidak enaknya sepiring ikan kuah kuning.

Kalau merujuk pada pernyataan bapak Stokes, dosen dari Deakin University, pendapat Food Vlogger soal makanan itu ada pada kategori selera. Pendapat ini boleh dilontarkan siapa saja tanpa argumentasi pendukung. Karena selera tentu tidak perlu diperdebatkan. Tapi yang cukup meresahkan dan sekali lagi, sangat disayangkan oleh orang-orang, pernyataan Food Vlogger tersebut bisa mencederai perasaan masyarakat adat Tanimbar.

Kalau kata Tamara, Food Vloggernya seperti sedang menghujat dan menghina bukan hanya sepiring ikan kuah kuning itu saja, tapi juga merendahkan ikan, kunyit, laut, tanah, dan manusia Tanimbar. Relasi manusia Tanimbar dengan tanah dan lautnya.

Warganet di Twitter pun memberikan saran jika tidak sesuai dengan selera, harusnya si Food Vlogger bilang saja kalau makanan itu tidak masuk di seleranya. Rasa memang perihal selera, kan, Unifers. Tapi sebagai orang yang sudah berpetualang ke sana kemari, Food Vlogger itu harusnya bisa memahami jika enak atau tidak itu subjektif sekali.

Apa Hubungannya dengan Masyarakat Adat?

Benang merahnya, masyarakat adat Tanimbar kini sedang dinilai makanannya oleh seorang Food Vlogger dari pusat, orang yang sudah mencoba makanan yang menurutnya enak dari seluruh penjuru daerah di Indonesia, atau mungkin di seluruh dunia.

Representasi soal makanan ini hanya contoh kecil bagaimana si pusat sedang mencoba menceritakan kepada orang-orang tentang si margin. Tanpa bertanya apakah representasi yang mereka lakukan sudah tepat. Kalau dalam Cultural Studies, si margin di sini lazim disebut sebagai the others. Mereka yang lain. Mereka yang liyan.

Jauh sebelum kasus soal makanan ini mencuat, sebuah stasiun televisi swasta pernah melayangkan permohonan maaf terbuka kepada publik atas tayangan yang mereka beri judul Primitive Runway. Kata Roy Thaniago di Remotivi, memprimitifkan suatu kelompok masyarakat adalah bentuk diskriminasi. Jelas ini merupakan sebuah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Tayangan tersebut bisa saja merupakan titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang masyarakat adat. Tiga masalah dengan jelas membentang. Pertama, mendiskriminasikan masyarakat adat dengan menyematkan predikat primitif. Kedua, merekayasa realitas kehidupan masyarakat adat. Ketiga, mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat.

Unifers, kami cukupkan tulisan yang panjang ini. Semoga bisa memberikan pencerahan lebih baik lagi tentang cara kita memandang masyarakat adat. Tidak, tidak. Mereka tidak meminta dibangunkan kebun kelapa sawit buat jadi minyak goreng dengan mengorbankan hutan adatnya. Mereka tidak meminta makan nasi seperti yang biasa kita lakukan di pusat. Mereka hanya harus diberi gambaran yang lebih baik. Gambaran tentang bagaimana mereka mau didefinisikan. Gambaran yang dipublikasikan atas persetujuan mereka. Mulai sekarang, yuk buka telinga lebar-lebar lagi. Biarkan the others berbicara tentang dirinya dengan suaranya sendiri. Itu akan lebih baik dibanding sibuk mendefinisikan sesuatu yang jauh dari jangkauanmu. Cheers!


TAG

Tinggalkan Komentar