IRA KOESONO DAN REPRESENTASI PENYIAR TELEVISI DI INDONESIA

...

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Hari Penyiaran Nasional telah berlalu, namun sulit rasanya jika kita tidak membaca apa pun yang berkaitan dengan penyiar-penyiar andal kita di Indonesia, misalnya Najwa Sihab. Namun karena sudah ada banyak informasi yang menceritakan rekam jejak Najwa saat menjadi presenter, kami akan membahas salah satu kolega Najwa yang sudah sering melanglangbuana di berbagai acara televisi. Dia adalah Ira Koesono.

Sosoknya kembali menjadi perbincangan setelah menjadi moderator Debat Pilpres 2019 kemarin. Lantas seperti apa gambaran perjalanan karir seorang penyiar televisi seperti Ira Koesono ini? Mari simak penjelasan berikut.

Ira Koesono dan Pekerjaan Pertamanya

Ia lahir di Jakarta pada 30 November 1969 dari pasangan Koesono Martoatmodjo dan Sri Utami. Bernama lengkap Dwi Noviratri Martoatmodjo, Ira kecil tumbuh dari keluarga yang cukup mendukung pilihan-pilihannya.

Ira melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia. Setelah lulus, Ira sempat bekerja di perusahaan akuntan publik, Auditor KPMG Hanadi Sujandro sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Ira Koesono Merambah Dunia Jurnalistik

Ketika awal 1996, Ira akhirnya mulai meniti karirnya di bidang jurnalistik dengan menjadi wartawan di stasiun televisi nasional yaitu SCTV. Kecintaan Ira dengan pekerjaannya, membuatnya dikenal oleh banyak koleganya sebagai sosok yang pemberani. Sebab kala itu, Ira bahkan dengan lugas menyetujui saat diminta melakukan liputan ke daerah militer Aceh.

Ira Koesono dan Orde Baru 

Rahasia umum bahwa seorang seorang jurnalis tidak akan lepas pemerintah yang berkuasa juga dibuktikan oleh Ira Koesono. Sebelum Reformasi 1998, ia sempat mewawancarai Sarwono Kusumaatmadja yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup RI dalam sebuah program yang dipandunya, Liputan6. 

Setelah acara tersebut, redaksi Liputan6 ditutup dan Ira diskorsing dengan tuduhan memancing Sarwono dengan pertanyaan yang akhirnya membuat Sarwono menyebutkan istilah cabut gigi dan tambal gigi. Istilah tersebut membuat penguasa tersinggung karena dianggap merujuk pada kuatnya desakan agar Soeharto, yang kala itu menjadi Presiden, untuk mundur dari kursinya. 

Ira Koesno adalah orang yang bertekad kuat. Meskipun ia mendapatkan skorsing, Ira tetap tampil lugas seperti biasanya di televisi. Apalagi setelah Orde Baru tumbang. Pada 1998 juga, Ira mendapatkan penghargaan Panasonic Gobel Awards dengan kategori Pembawa Berita Wanita Terfavorit.

Ira Koesno dan Pendidikannya

Ira yang mendapat gelar Sarjana Ekonomi dan bekerja di dunia penyiaran, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya di Inggris, tepatnya pada Universitas Bristol dalam bidang Film dan Produksi Televisi. Setahun setelahnya, Ira juga mengambil gelar yang sama, yaitu Master of Arts di bidang Jurnalistik Internasional, Universitas Westminster, Inggris.

Ira Koesno dan Perusahaan Komunikasinya Sendiri

Puas mendapatkan berbagai penghargaan, Ira Koesno mundur sejenak dari dunia pertelevisian di tahun 2003. Sebab ia sedang fokus mendirikan Ira Koesno Production (IKPro), sebuh perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa komunikasi. Selang dua tahun, nama IKPro berubah menjadi IKComm atau Ira Koesno Communications dan memfokuskannya pada bidang public relations dan media konsultan, production house, dan marketing communication.

Sebagai penyiar televisi senior, sosok Ira yang tegas tidak mudah dilupakan begitu saja. Pada 2004 kemudian, ia mendapat kepercayaan menjadi pemandu acara dalam Debat Capres 2004 yang saat itu diikuti oleh empat pasangan Capres dan Cawapres. Selanjutnya di tahun 2010, Ira kembali memegang program televisi berjudul “Satu Jam Lebih Dekat” di tvOne. Enam tahun berselang, Ira juga menjadi penyiar di Kompas TV dalam acara “Satu Meja”. Terakhir, Ira menjadi moderator debat Capres dan Cawapres 2019.

Jadi itulah tadi sedikit cerita penyiar televisi di Indonesia yang diambil dari perspektif Ira Koesno. Kalau kamu adalah kepribadian yang berani, tegas, dan mampu menanggung risiko pekerjaan sebagai seorang jurnalis, kamu juga bisa menjadi seperti Ira Koesno. Ira yang memulai karirnya dengan latar belakang sarjana ekonomi nyatanya tidak bisa mematahkan semangat dan kesempatan yang dimilikinya.

Meskipun begitu, kamu akan mendapatkan cukup ilmu jika dari awal memilih jurusan Ilmu Komunikasi sebagai awal pendidikan sarjanamu. Jurusan Ilmu Komunikasi yang memiliki banyak pengajar andal di bidangnya ada di Universitas Fajar. Kalau kamu belum terlalu tertarik mengambil jurusan ini karena kamu menganggapnya bisa praktis dan dipelajari secara otodidak seperti Ira Koesno, kamu pun bisa memilih jurusan lain di Universitas Fajar, misalnya jurusan Manajemen, Hubungan Internasional, Sastra Inggris, Akuntansi, bahkan Teknik Elektro, Sipil, Kimia, Mesin, atau Arsitektur. Semuanya lengkap di UNIFA. Tunggu apa lagi? Kami tunggu kamu di kelas ya!

Leave Comment

@UniVfajar

Press ESC to close