Tulis & Tekan Enter
Logo
images

KENAPA DISKRIMINASI SUBUR DI INDONESIA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Bulan ini memang penuh dengan beberapa hari-hari peringatan yang cukup berat nih, Unifers. Setelah sebelumnya ada hari kemanusiaan sedunia, kali ini, tanggal 22 Agustus, semua orang di seluruh dunia sedang merayakan hari korban diskriminasi agama sedunia. Penetapan hari ini dilakukan oleh PBB terkait adanya intoleransi agama atau kepercayaan yang terjadi di dunia.

Mungkin kamu sama seperti banyak orang yang kadang berpikir, kok bisa sih ada orang yang melakukan diskriminasi kepada orang lain atau sekelompok orang yang bahkan mereka ngga kenal satu sama lain?

Unifers, melalui artikel ini kami akan menyuguhkanmu beberapa alasan kenapa diskriminasi agama dan diskriminasi lainnya tumbuh begitu subur di Indonesia. Setelah membacanya, kamu setidaknya bisa bertanya pada dirimu sendiri. Jangan-jangan kamu pernah—meski tidak direalisasikan dalam bentuk tindakan—melakukan diskriminasi terhadap orang atau kelompok tertentu tanpa kamu sadari. Jadi, jangan lupa dibaca hingga selesai ya.

1. Pengalaman Individu dan Kelompok

Kami menempatkan pengalaman sebagai alasan pertama mengapa diskriminasi begitu mudah dilakukan. Tidak bisa dipungkiri, pengalaman akan membentuk seseorang untuk berpikir dan bertindak sebagaimana apa yang sudah ia alami sebelumnya. Kita mengenal kata trauma, sesuatu yang biasanya muncul setelah memiliki pengalaman buruk terhadap sesuatu.

Ternyata, pelaku diskriminasi biasanya orang-orang yang mengalami ini. Kamu mungkin ketakutan ketika melihat orang yang bercelana cingkrang, berjanggut, dan membawa ransel di sekitar rumah ibadah yang seharusnya orang itu tidak ada di sana. Karena kamu sering melihat di media soal adanya pengeboman di beberapa rumah ibadah oleh orang-orang yang kamu anggap memiliki ciri yan sama.

Badanmu mungkin menggigil ketika melihat orang dengan perawakan dari daerah tertentu melintas di depanmu. Karena kamu pernah punya pengalaman atau ada pengalaman orang di sekitarmu yang pernah diganggu dengan orang yang berciri sama. Tentu saja, Unifers, perawakan dan tampakan orang dari luar tidak bisa langsung kita judge begitu saja. Orang yang berpenampilan sama akan memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Bahkan pada anak kembar identik sekali pun.

Nyatanya, pengalaman buruk yang dialami olehmu atau yang pernah kamu dengarkan di sekitarmu bisa menjadi pemicu kamu melakukan diskriminasi kepada orang atau kelompok tertentu. Tidak selesai sampai di situ, rasa kecewa atau frustasi yang tidak bisa diekspresikan terhadap kejadian tertentu juga bisa membuat seseorang mengarahkan kemarahannya ada target yang dianggap rentan dan lemah.

Kita harus mengakui, ketika bertemu dengan orang lain, yang pertama yang akan kita lihat darinya adalah sesuatu yang berbeda dengan kita. Tidak berhenti pada tampilan fisiknya saja, tapi juga latar belakangnya. Mulai dari agama, ras, pendidikan, bahkan status sosial. Kecenderungan melihat perbedaan inilah yang biasanya menjadi masalah. Setelah memahami ini, kamu tahu harus bersikap apa ke depannya, bukan?

2. Prasangka yang Berulang

Sebagaimana yang dikutip dari Sindonews, Andu Muhammad Rezaldy selaku staf Divisi Pembela HAM di LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menjelaskan, diskriminasi bermula dari prasangka dan terulang karena prasangka dibiarkan tumbuh berkembang.

Prasangka lalu berubah ke dalam bentuk tindakan. Prasangka tersebut maksudnya sikap negatif dalam berpikir terhadap individu atau kelompok tertentu tanpa dasar alasan yang jelas. Jadi setelah kamu punya pengalaman terhadap orang atau kelompok tertentu, prasangkamu akan tetap tumbuh.

3. Dilanggengkan Kebijakan

Menurut Andi, cara mengatasi diskriminasi agar tidak terjadi lagi dalam level kebijakan, adalah negara pemerintah harus mencabut segala bentuk regulasi yang diskriminatif karena dapat dijadikan oleh orang atau kelompok intoleran untuk menggunakan instrumen tersebut sebagai alasan pembenar melakukan tindakan diskriminatif.

Andi mengingatkan masyarakat untuk pentingnya membuat ruang-ruang dialog, baik oleh tokoh agama atau bisa meminimalisir prasangka negatif terhadap kelompok tertentu dan bisa memutus siklus prasangka.

Nah, itu dia Unifers 3 alasan utama mengapa seringnya seseorang dengan mudah melakukan diskriminasi, termasuk diskriminasi agama terhadap orang atau kelompok lain. Mulai hari ini, yuk kita hidup lebih toleran lagi. Jadikan iklim kita lebih inklusif. Lagi pula, apa asyiknya jika kita selalu seragam dari ujung rambut sampai ujung kaki?


TAG

Tinggalkan Komentar