MEMPERINGATI HARI HAM NELAYAN DAN MASYARAKAT SIPIL: APA KABAR NELAYAN INDONESIA

...

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Hari ini, tepat 13 Januari diperingati sebagai Hari HAM Nelayan dan Masyarakat Sipil. Hari dimana pemerintah Indonesia menjamin bahwa masyarakat pesisir tidak akan terusir dari tanahnya sendiri. Bahwa mereka, sebagai manusia yang merdeka, memiliki tempat untuk meneruskan apa yang mereka lakukan untuk mencari hidup.

Kami mengutip data dari Katadata.co.id yang menunjukkan bahwa jumlah nelayan di Indonesia menurun sejak 2017. Data ini tentu tidak muncul begitu saja, tetapi berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Jadi sejak 2017 menuju 2018, jumlah nelayan Indonesia menurun 1,1% menjadi 2,64 juta dan kembali turun di 2019 sebesar 9,5% atau tinggal 2,39 juta. Angka ini sudah mencakup nelayan laut, perairan umum darat, dan pembudidaya.

Membahas mengenai persebaran nelayan di Indonesia, Maluku menempati possi pertama sebanyak 237,3 ribu orang. Sulawesi Selatan sendiri berada pada posisikelima dengan 108,8 ribu setelah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara pada periode yang sama.

Mengapa Nelayan Semakin Berkurang?

Mengutip dari Mongabay.co.id, ada beberapa alasan mengapa nelayan tradisional, khususnya, mengalami banyak kendala. Pertama, mereka harus berhadapan dengan nelayan pukat trawl, sementara hasil tangkap sampai perlindungan nelayan masih jadi masalah yang biasa dialami nelayan tradisional. Kedua, pemasaran nelayan tradisional dinilai masih lemah. Mereka belum memiliki alat pendingin yang baik, hingga bisa merusak ikan hasil tangkapan.

Kedua alasan tersebut setidaknya bisa menjadi gambaran bahwa ada masalah serius yang dihadapi oleh nelayan tradisional kita di Indonesia. Berbicara mengenai kebahagiaan, kami pun memiliki jawaban yang mungkin membuatmu tercengang.

Apakah Nelayan Indonesia Bahagia?

Kami menghimpun riset dari Surey Sosio Ekonomi Nasional pada 2017 lalu. Pada survey tersebut, ditermukan fakta bahwa nelayan ternyata menjadi salah satu profesio miskin di Indonesia. Tunggu, biar kami jelaskan secara perlahan.

Jadi ada sebanyak 11,34% orang di sekitor perikanan yang tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran sekitar 5,56%, konstruksi bangunan 9,86%, dan pengelolaan sampah sekitar 9,62%. Hal ini juga menjadi dalang mengapa anak muda enggan berprofesi sebagai nelayan.

Lantas bagaimana mengukur kebahagiaan nelayan kita di Indonesia? Kami mengutip penelitian analisis statistik terhadap status kesejahteraan nelayan yang diwakili oleh data sosioekonomi dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) tahun 2012 dan 2015 yang kami ambil dari Unpad.ac.id.

Hasilnya, meskipun nelayan termasuk salah satu pekerjaan paling rentan, analisis tersebut menunjukkan belum ada bukti kuat bahwa nelayan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibanding profesi lainnya.

Menurut situs tersebut, terdapat aspek yang lebih berkorelasi terhadap kebahagiaan ketimbang sekadar status sebagai nelayan, misalnya saja pendidikan, status pernikahan, hingga kondisi kesehatan. Salah satu yang bisa menjelaskan hasil ini adalah karakter pekerjaan nelayan yang membuat mereka menikmati kehidupan alam terbuka.

Unifers, ternyata studi sebelumnya juga memperkuat kalimat tersebut. Bagaimana tidak, pekerjaan di sektor perikanan yang penuh dengan petualangan dan kebebasan serta aktivitas alam nyatanya berperan aktif sebagai bentuk terapi bagi nelayan.

Mengapa Nelayan Indonesia Cenderung Miskin?

Kami menjawab pertanyaan ini dengan mengutip pandangan dari Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), M Riza Damanik melalui Liputan6.com, bahwa akar persoalan kemiskinan nelayan lokal bersumber pada tiga hal.

Pertama, ketimpangan pemanfaatan sumber daya ikan, dimana dari 2,8 juta nelayan kecil di Indonesia, 90 persen hanya membawa pulang rata-rata 2 kg ikan per hari. Jika ikan tersebut dijual ke pasar, maka penghasilan nelayan hanya berkisar Rp20-30 ribu saja. Hal ini terjadi bukan karena di laut kita tidak ada lagi ikan, tetapi karena minimnya tangkapan nelayan yang disebabkan oleh tidak efektifnya instrument negara bekerja di laut.

Negara terkesan membiarkan kapal-kapal berbobot besar bebas menangkap ikan di perairan kepulauan dan beroperasi kurang dari 12 mil laut dari garis pantai. Riza menjelaskan dengan rinci, sebanyak 99,5% armada ikan Indonesia termasuk kalap berbobor 30 GT-100 GT beroperasi di perairan kepulauan. Sisanya, 0,5% berani berhadapan dengan kapal-kapal ikan sing di Zona Ekonomi Ekskulif. Kualitas lingkungan laut yang terus menurun dan cuaca yang semakin ekstrim.

Kedua, hak-hak dasar keluarga nelayan dan petambak tidak terpenuhi. Secara nyata, hal ini bisa dilihat pada nelayan di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Mulai tidak adanya layanan fasilitas kesehatan dan pendidikan, air bersih yang semakin sulit, hingga kondisi pemukiman dan lingkungan perairan yang buruk.

Ketiga, sekali lagi menurut Riza, kuatnya arus liberalisasi dimana akhir 2015 lalu Indonesia telah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dan komoditas perikanan telah menjadi 1 dari 12 sektor prioritas pasar tunggal tersebut. Apabila terlambat berbenah, laut Indonesia akan segera dibanjiri nelayan asing dan semakin banyak pula produk perikanan impor dari negara tetangga yang lebih mudah kamu temukan, Unifers.

Jadi itulah tadi beberapa kondisi terkini dari nelayan kita di Indonesia. Selamat merayakan hari ini, Unifers. Kita tentu berharap bahwa kondisi nelayan bisa semakin pulih ke depannya. Mari bersama menikmati ikan hasil tangkapan nelayan, toh ikan memberikan banyak manfaat asam lemak omega-3 pada kita, sebuah nutrisi yang terbilang penting karena dapat menjaga kesehatan jantung dan otak.

Referensi

Jayani, Dwi H. (2021). Jumlah Nelayan Indonesia Menurun Sejak 2017. Katadata.co.id, dilihat 7 Januari 2022, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/08/24/jumlah-nelayan-indonesia-menurun-sejak-2017

Karokaro, Ayat S. (2019). Kala Nelayan Tradisional Masih Hadapi Beragam Kendala. Mongabay.co.id, dilihat 7 Januari 2022, https://www.mongabay.co.id/2019/06/21/kala-nelayan-tradisional-masih-hadapi-beragam-kendala/

Anna, Zuzy. (2020). Nelayan Memang Miskin, Tapi Riset Buktikan Mereka Tetap Bahagia. Unpad.ac.id, dilihat 8 Januari 2022, http://sdgcenter.unpad.ac.id/nelayan-memang-miskin-tapi-riset-buktikan-mereka-tetap-bahagia/

Deny, Septian. (2014). 3 Penyebab yang Bikin Nelayan RI Miskin. Liputan6.com, dilihat 8 Januari 2022, https://www.liputan6.com/bisnis/read/2079441/3-penyebab-yang-bikin-nelayan-ri-miskin

Handayani, Verury V. (2020). Pentingnya Makan Ikan, Ini 4 Manfaatnya. Halodoc.com, dilihat 8 Januari 2022, https://www.halodoc.com/artikel/pentingnya-makan-ikan-ini-4-manfaatnya

Leave Comment

@UniVfajar

Press ESC to close