Tulis & Tekan Enter
Logo
images

MENDENGARKAN RADIO DAN MENJADI MANUSIA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Kapan terakhir kali kamu mendengarkan radio? Sepulang kerja, sebelum mengerjakan tugas, atau saat kamu masih duduk di bangku SMP? Biasanya kamu mendengarkan radio lewat apa? Apa yang paling kamu nantikan di radio? Lagu-lagu lama yang membuat ingatanmu mundur jauh ke belakang saat bersama seseorang? Jika iya, maka selamat. Kamu benar-benar memiliki sifat alamiah seorang manusia. Doyan mengenang hehe..

Hari ini, tepatnya 1896 silam, Guglielmo Marconi resmi mematenkan radio sebagai temuan terbarunya. Fokus bahasan pun akan kami arahkan soal radio ya. Tapi tenang, di sini kami hanya akan mempertegas eksistensi kamu sebagai seorang manusia kok. Lagi pula, tidak ada salahnya dengan mengenang. Kalau kata seorang penulis tempo hari, ingatan manusia memang dirancang seluar biasa itu. Mereka bisa memutar kembali kaset kenangan di kepalanya hanya karena mencium bau tertentu, mengunjungi suatu tempat, bahkan mendengarkan nada-nada dari sebuah lagu, yang di masanya—pernah menjadi playlist wajib bersama seseorang.

Sebagai sebuah media mainstream atau media arus utama yang kini memperluas jangkauannya dengan menghadirkan streaming, radio memang memiliki pendengarnya sendiri. Kalau boleh meminjam kacamata ilmu komunikasi, radio ini memiliki audiens dengan karakteristik khusus, yaitu orang-orang yang lebih suka mendengarkan audio dan membiarkan imajinasinya berlarian begitu saja. Kalau kamu tidak menyukai yang seperti itu, sudah dipastikan kamu adalah tipikal orang yang membutuhkan visualisasi terlebih dahulu sebelum memahami sesuatu. Media yang tepat untuk kamu adalah media televisi atau media baru, berarti.

Penikmat radio berasal dari berbagai latar belakang masyarakat. Kalau kamu mendengarkan radio dari dalam mobilmu saat kemacetan membabi buta di jalan raya, seorang ibu nun jauh di sana sedang mendengarkan musik dangdut kesukaannya di radio sembari menyapu teras rumah. Kalau ayahmu yang seorang pejabat sedang memutar radio di ruangannya sembari menandatangani berkas, jauh di kota seberang ada seorang mahasiswi yang tengah depresi membaca revisi pembimbing dan bisa tenang ketika mendengarkan musik di radio dengan menggunakan hape senternya.

Bagi banyak orang, radio masih menjadi pilihan media arus utama yang cukup steril dari isu-isu politik dan pemerintahan yang menjengahkan. Kamu tidak akan menemukan Desta dan Gina membanyol soal situasi Indonesia hari ini di Prambors. Meskipun begitu, kamu akan menemukan mereka memutarkanmu beberapa lagu yang memaksa ingatanmu mundur. Memutar lagu Dear God-nya Avenged Sevenfold yang biasa didengarkan oleh anak 90-an di warnet, misalnya. Mungkin kamu akan menemukan lagu The Only Exception-nya Paramore terdengar nyaring. Bahkan, lagu paling lawas seperti Fall for You dari Secondhand Serenade pun bisa jadi mereka putar khusus untuk manusia-manusia yang senang sekali mengenang seperti kita semua.

Ingatan manusia itu panjang. Jadi kehadiran radio akan membantumu kembali mengingat, bahwa kamu manusia dan tidak masalah jika kamu sedikit mengenang jatuh cinta pertamamu dengan orang asing. Bagaimana kamu hanya melihatnya tersenyum satu kali dan mampu membuatmu bertahan hidup berminggu-minggu. Bahwa kamu manusia dan tidak masalah jika kamu sedikit mengenang betapa berdegub jantungmu kala menaruh bunga di meja seorang teman kerja sembari mendengar Pemuja Rahasia-nya Sheila on 7. Bahwa kamu manusia dan tidak masalah jika kamu mengenang kembali cinta yang bertepuk sebelah tanganmu ditemani dengan lagu Setengah Hati-nya Ada Band.

Pada akhirnya, mendengarkan radio akan membuatmu kembali menjadi manusia. Ngomong-ngomong, kalau ingin mempelajari soal radio dan beberapa media lainnya, kamu boleh loh mendaftar masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Fajar. Tidak hanya belajar bagaimana kerja radio sebagai sebuah media mainstream, tapi kamu juga akan diajarkan cara memanfaatkan radio, bagaimana menjadi penyiar yang baik, dan bagaimana cara membuat program acara. Kami tunggu kamu di UNIFA!


TAG

Tinggalkan Komentar