Tulis & Tekan Enter
Logo
images

MENGISAHKAN ILO, RELAWAN COVID YANG SERING DIPANDANG SEBELAH MATA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Unifers, hari ini adalah perayaan hari kemanusiaan sedunia. Hari ini dibuat untuk mengenang orang-orang yang sudah berjasa terhadap kemanusiaan. Mereka yang berdiri di garda paling depan untuk membantu. Pada artikel kali ini, kami akan memberikanmu kisah seorang relawan covid bernama Ilo. Semoga ada yang bisa diambil dari cerita ini.

Sudah 9 bulan Ilo, seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Teknik, mengabdikan dirinya untuk menjadi relawan covid yang tempatkan di sebuah hotel dekat Pantai Losari, Makassar. Ilo sudah tidak memiliki mata kuliah di kampus. Saat ini ia hanya berfokus menyelesaikan skripsinya yang sering mandet karena dosen pembimbing perfeksionis.

Menjadi relawan covid tidak hanya membuat Ilo menghabiskan lebih banyak waktunya di hotel. Ilo juga harus mengikhlaskan untuk tidak bertemu dengan keluarganya, terutama bapaknya yang sekarang juga sedang dirawat di RS karena covid dan berkomorbid. Sehari-hari, Ilo hanya memanfaatkan ponsel pintar miliknya untuk melakukan panggilan video dan menyapa bapaknya yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.

Suatu pagi, Ilo kedatangan seorang pasien baru dari daerah padat penduduk di Makassar. Kali ini dokter meminta Ilo memerhatikan pasien tersebut karena ia berkomorbid dan masih mengonsumsi obat paru-parunya. Nama pasien tersebut adalah Nia. Tidak seperti pasien lainnya, Nia diantar oleh kedua orang tuanya dengan menggunakan mobil pribadi. Kedua orang tua Nia pun kabarnya dijadwalkan PCR keesokan paginya setelah mendapat kabar Nia, anak perempuan semata wayangnya, positif Covid-19.

Ilo menjemput Nia setelah melalui screening awal yang ketat dan dijaga oleh polisi hingga tentara. Sebagai seorang relawan, Ilo bertugas mengurusi administrasi Nia. Itulah mengapa ketika pintu kamar hotel dibuka, Ilo meminta Nia berpose sejenak dengan surat pengantar dari puskesmasnya dan dengan memegang KTP-nya.

Menurut Ilo, kamar yang ditempati oleh Nia adalah kamar dengan pemandangan terbaik, langsung mengarah ke Pantai Losari dan masjid 100 kubah. Sebelum meninggalkan Nia untuk beristirahat, Ilo menjelaskan bahwa setiap pasien akan diberikan 5 botol air minum setiap harinya. Air tersebut diantar pada pagi hari bersamaan dengan sarapannya. Semua sudah bisa diambil di atas meja depan pintu kamar begitu bel dibunyikan. Sarapannya berganti, kadang ditanggung oleh hotel yang berarti isinya adalah roti dan susu, kadang ditanggung oleh pemerintah yang berarti isinya adalah makanan berat seperti nasi dan lauk.

Pasien diberi makanan 3x sehari. Makan siang diantar pukul 12 dan makan malam pukul 5 sore. Bersamaan dengan makan siang dan makan malam, pasien pun diberian dos kue dan susu. Ilo tidak lupa mengingatkan Nia untuk mengikuti kelas motivasi yang diadakan di lantai 2 setiap sekali seminggu. Jadwal berjemur Nia dan teman-teman selantainya pun dijelaskan oleh Ilo, 2 kali seminggu. Ketika Nia dan teman-teman ke rooftop untuk berjemur, kamar akan dibersihkan oleh petugas.

Nia akan dimasukkan di grup Whatsapp khusus lantai 5 agar Ilo lebih mudah menginformasikan sesuatu. Sebelum pergi, Ilo memberikan nomor Whatsapp yang bisa Nia gunakan untuk menghubunginya jika perlu sesuatu, apalagi Ilo memang ditugaskan untuk mengambil apa saja titipan pasien, termasuk Nia, di pos satpam.

Suatu malam Nia tidak bisa tidur. Ilo menjadi bulan-bulanan Nia karena Nia terus mengganggunya dan mengirimkan pesan kepada Ilo. Nia mulai bosan dikurung di kamar hotel dan berniat keluar sejenak untuk nongkrong makan pisang epe di Pantai Losari. Ilo pun dengan sabar mengingatkan Nia bahwa itu tidak mungkin bisa dilakukan, mengingat Nia positif dan bergejala sedang.

Nia terus menerus mengganggu Ilo karena frustasi. Sudah 10 hari Nia menjalani rutinitas yang sama. Ilo pun datang ke kamar Nia, berdiri di depan pintu dan memberikan Nia saran untuk menelpon teman-temannya saja jika sudah suntuk. Pagi itu Ilo nampak sangat kelelahan. Semalam, seorang pasien di lantai kamar Nia, melakukan upaya bunuh diri. Beliau adalah seorang perawat yang sudah hampir 2 bulan berada di hotel, istrinya meninggal karena covid dengan anak di dalam perutnya. Beberapa hari sebelumnya, ibu mertuanya pun menyusul.

Ketika memiliki waktu senggang, Ilo menghabiskan diri di kamarnya. Menangis dan mempertanyakan kembali pilihan yang diambilnya. Tapi begitu mengingat jika ini ia lakukan atas nama kemanusiaan, Ilo kembali menegakkan kepalanya. Meluruskan niatnya membantu orang meski ia harus membayar mahal dengan tidak bertemu ayahnya yang sedang sakit.

Ilo adalah satu dari sekian banyak relawan covid yang selalu dicecar karena katanya menerima banyak uang dari pemerintah. Mereka yang mencecar barangkali lupa apa saja yang harus dihadapi Ilo dan relawan lainnya di hotel, manusia yang frustasi. Mereka harus menjadi sosok yag selalu positif, sebab ikut frustasi seperti pasien, tidak pernah boleh menjadi pilihannya ketika menerima pekerjaan ini.

 

 


TAG

Tinggalkan Komentar