Tulis & Tekan Enter
Logo
images

MENJADI AKTIVIS TANPA TURUN KE JALAN, EMANG BISA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Unifers, ada banyak sekali masalah di negara ini. Tidak hanya kebijakan pemerintah soal pandemi yang dinilai banyak orang cukup kacau, dana bansos untuk masyarakat terdampak yang dikorupsi, dan banyak lagi yang lain. Beberapa dari masalah tersebut membutuhkan bantuan kita untuk bersuara. Kehadiran Covid-19 yang tidak bisa lagi ditawar, membuat kita harus berada di rumah dan hanya keluar jika benar-benar untuk keperluan mendesak. Tentu dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Kalau dulu kita turun ke jalan untuk bersuara, bergandengan tangan bersama teman-teman untuk mencari keadilan, menyuarakan isu tertentu, sekarang kita kebingungan di mana kita harus meneruskan aspirasi yang kita miliki, di mana kita mengambil pelantang untuk bisa didengar dengan suara yang nyaring?

Nah, di studi Ilmu Komunikasi lanjutan, kamu bakalan mengenal ada yang namanya aktivisme digital. Sebuah gerakan di mana kamu kini tidak perlu turun ke jalan untuk menyampaikan sesuatu. Kamu bahkan bisa mencari dukungan orang-orang yang sepemikiran denganmu hanya dengan menggunakan gawai, memakai baju daster di rumah, dan memulai gerakan aktivisme ini dari atas tempat tidurmu.

Bagaimana Gerakan Aktivisme Digital ini Bermula?

Gerakan ini hadir seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Menggunakan bantuan sebuah platform, gerakan aktivisme digital ini bisa dimulai oleh siapa saja. Akan lebih berdampak jika yang memulai adalah orang yang sudah memiliki pamor sebelumnya.

Gerakan-gerakan semacam ini biasanya lahir dari adanya keresahan terhadap isu tertentu. Misalnya, ada seseorang yang menganggap penting untuk mengapresiasi tenaga kesehatan kita di Indonesia seiring waktu dan tenaga mereka yang habis untuk berperang dengan pandemi ini. Gerakan ini bisa diciptakan oleh seseorang, disebarkan dari satu orang ke orang yang lain, dan berakhir massif. Diketahui oleh banyak orang seluruh Indonesia, atau bahkan orang Indonesia yang ada di luar negeri.

Bagaimana Gerakan Aktivisme ini Bekerja?

Gerakan ini dengan bantuan sebuah platform, dengan cepat dapat menyebar ke orang yang satu dengan orang yang lain. Kalau kamu misalnya orang Makassar yang tidak sepakat dengan pengerukan pasir di Pulau Kodingareng yang membuat wilayah tangkap nelayan rusak dan merusak habitat biota laut, kamu boleh membuat petisi, dan menyebarkannya.

Teman-temanmu yang berada di luar dari Makassar, bahkan yang sedang kuliah di luar negeri, jika ia mendukung opinimu itu, tentu dengan senang hati akan ikut menandatangani petisi tersebut. Teman-temanmu tidak perlu ke Makassar dan melihat sendiri bagaimana istri-istri nelayan berdiri di depan Kantor Gubernur untuk meminta pemerintah menindaklanjuti perusahaan yang merusak wilayah tangkap suami mereka. Mereka bahkan tidak perlu tahu di mana Pulau Kodingareng itu berada.

Yang mereka tahu adalah ini menyangkut keselamatan biota laut dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Kodingareng yang hampir semuanya bekerja sebagai nelayan. Mereka yang bersimpati dengan isu tersebut tidak perlu turun ke jalan untuk berorasi. Mereka cukup menandatangani, memasukkan email, dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Dan suara mereka akan terhitung sebagai orang yang juga meminta keadilan terkait isu tersebut.

Apakah Petisi Online sebagai Bagian dari Aktivisme Digital ini Mampu Mengubah Sesuatu?

Kalau kita berbicara soal dampak, samapi detik ini, dampak yang paling nyata dari petisi online ini adalah kognitif. Seperti yang kami utarakan sebelumnya, kamu tidak perlu ke Makassar untuk tahu kalau di Makassar sedang ada pulau yang pasir lautnya dikeruk hingga nelayannya tidak bisa mendapatkan ikan.

Kamu pun tidak perlu ke Jakarta dan berkoar di depan kantor polisi misalnya, untuk membebaskan aktivis yang kamu pikir ditangkap karena benar. Kamu tidak perlu ke mana pun untuk bisa memahami kondisi-kondisi buruk tersebut.

Kalau tindaklanjut, misalnya, gerakan aktivisme digital beberapa kali pernah berhasil. Sayangnya, banyak dari gerakan ini berhasil ketika cara-cara konvesional seperti demo kembali dilakukan. Jadi beberapa kasus tidak cukup untuk sekadar petisi saja, tapi perlu aksi nyata. Turun ke jalan.

Hal ini disebabkan, di Indonesia belum ada departemen atau kementerian tertentu yang menampung dan menangani ini. Berbeda dari beberapa negara lain seperti di Amerika Serikat misalnya, yang punya departemen sendiri di gedung putih untuk menampung dan merealisasi tuntutan masyarakat terhadap isu tertentu lewat petisi online. Biasanya, harus ada jumlah minimal tanda tangan yang terkumpul.

Jadi itulah Unifers sedikit penjelasan dari pertanyaan yang mungkin muncul, bisa ndak sih kita jadi aktivis tanpa turun ke jalan? Jawabannya adalah ya! Tapi gerakan-gerakan langsung seperti demo memang masih menjadi solusi. Sebab nyatanya tidak ada bagian tersendiri di pemerintahan kita untuk mengatur ini. Semoga ke depannya akan ada ya yang memerhatikan suara-suara masyarakat sipil seperti kita.


TAG

Tinggalkan Komentar