Tulis & Tekan Enter
Logo
images

MERAYAKAN HARI KELAHIRAN CHAIRIL ANWAR DENGAN MENGENANG KEMBALI SAJAK-SAJAKNYA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Tepat hari ini, seorang Chairil Anwar, penyair yang dijuluki sebagai Binatang Jalang lahir. Unifers, kamu mungkin pernah mendengar namanya di bangku sekolah. Saat guru pelajaran Bahasa Indonesia memintamu untuk membacakan puisi Aku atau Diponegoro. Kalau hari ini Chairil Anwar masih hidup, dia mungkin akan berumur 99 tahun.

Penyair terkemuka Indonesia ini menjadi pelopor angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia. Dimana kala itu puisi betul-betul kaku dan tidak ada yang berani membentuk ulangnya, selain Chairil Anwar dan teman-teman angkatannya.

Nah, Unifers, yuk mengenang kembali sosok Chairil Anwar dari sajak-sajak yang pernah dia ciptakan selama hidup. Beberapa sajak ini sudah kami pilih, kami ambil yang betul-betul melekat sama kamu sewaktu masih menjadi murid sekolahan. Jangan lupa dibaca sampai selesai ya!

1. DO’A

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh

Cahaya Mu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintu Mu aku bisa mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

 

2. YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku

Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang

Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

Sepi

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertampik

Ini sepi terus ada. Dan menanti

 

3. AKU

Kalau sampai waktuku

Aku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

4. DIPONEGORO 

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

 

5. AKU BERKACA

Ini muka penuh luka

Siapa punya?

Ku dengar seru menderu

Dalam hatiku

Apa hanya angin lalu?

Lagi lain pula

Menggelepar tengah malam buta

Ah..!!!

Segala menebal, segala mengental

Segala tak ku kenal..!!!

Selamat tinggal…!!


TAG

Tinggalkan Komentar