Tulis & Tekan Enter
Logo
images

MERAYAKAN HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA: YANG MERDEKA DAN YANG BELUM MERDEKA DARI KITA

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Hari ini tentu kita semua patut bersuka cita nih, Unifers. Sebab Indonesia kembali berulang tahun yang ke 76 sejak merdeka di tahun 1945. Pada beberapa situs, kamu akan menemukan banyak yang mengangkat soal hari kemerdekaan ini. Tapi dalam artikel kali ini, kami akan coba memberikanmu sesuatu yang berbeda.

Ketika berbicara mengenai kemerdekaan, kita akan mengakui kalau sekarang ya kita sudah merdeka secara fisik. Tidak ada lagi kolonial yang menyuruh kita untuk membangun jalan tanpa upah. Tidak ada lagi yang memaksa kita menjadi pekerja di tanah sendiri. Tapi, apakah kita betul-betul sudah merdeka? Tunggu. Sebenarnya apa definisi merdeka?

Merujuk pada KBBI, merdeka bisa diartikan bebas, tidak terkendala atau lepas dari tuntutan, dan tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Hm, apakah benar kita sudah leluasa?

Kita Memang Sudah Merdeka..

Kembali lagi, secara fisik betul jika kita sebagai masyarakat Indonesia ini sudah merdeka. Kita bisa bersekolah, kita bebas milih meski sebagian orang menganggap kebebasannya masih dibatasi. Kita bisa makan, berjalan-jalan, dan bekerja tanpa diawasi oleh serdadu bersenjata di depan pintu.

Karena merasa diri sudah merdeka, untuk itulah kita merayakan hari ini, bukan? Tapi tunggu, sepertinya ada sesuatu yang terlupakan..

Benarkah Kita Betul-Betul Sudah Merdeka?

Ada yang belum merdeka dari kita selepas penjajahan, yaitu mental. Kalau dalam Cultural Studies hal ini sering disebut sebagai poskolonialisme. Artinya, setelah kolonialisme berakhir, sebagai negara bekas jajahan, kita masih mendapatkan sisa-sisanya dalam bentuk mental dan pemikiran, yang secara turun temurun diwariskan dari bebuyut kita sebelumnya.

Banyak sekali sebenarnya pemahaman-pemahaman kolonial yang secara tidak sadar masih kita miliki hingga hari ini. Berikut adalah contoh kecilnya.

1. Terkesima Ketika Bertemu Bule di Indonesia.

Bule adalah kata yang lazim digunakan oleh orang di Indonesia untuk menyebut mereka yang berasal dari negara barat. Kita semua nampaknya harus mengakui nih, Unifers, kalau masih banyak orang yang terkesima ketika bertemu dengan bule di Indonesia.

Masih banyak dari kita yang suka mengajak mereka berfoto. Menganggap apa yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang sangat menarik. Menganggap jika mengunggah foto bersama bule, semua orang akan terkesima dengan kita.

Bersama bule, kita merasa memiliki prestise lebih dibanding orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut. Padahal, jika dipikirkan kembali, kenapa kita harus merasa seperti itu? Tidakkah pemikiran yang seperti ini justru semakin melanggengkan bahwa negara barat akan selalu lebih unggul dari kita? Apakah kamu tidak merasa kalau kita seperti sedang mengulang penjajahan—yang kini bedanya hanya karena kita melakukannya dalam pemikiran?

2. Bahasa yang Ditinggikan.

Kalau menilik dari segi pendidikan, banyak sekali institusi pendidikan yang masih menerapkan pemikiran jika mahasiswa atau murid-murid yang tulisannya menggunakan bahasa Inggris, bahkan jurnalnya tembus dalam level tertentu, sebagai sesuatu yang sangat luar biasa.

Pernyataan ini tidak untuk mengecilkan usaha atau kualitas tulisan dari seseorang. Hanya saja, tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita yang masih menganut paham jika tulisan ilmiah yang menggunakan bahasa Indonesia tidak sama derajatnya dengan tulisan berbahasa Inggris.

Sepakat, jika bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan jika tulisan kita menggunakan bahasa itu, maka jangkauan pembacanya akan lebih luas. Tetapi, sesat pikir ini muncul ketika misalnya, topik A ditulis oleh dua orang berbeda. Satu dari orang luar negeri dan satu dari peneliti lokal yang hidup di mana topik A ini muncul. Ketika dibawa ke forum-forum ilmiah, tidak sulit menemukan akademisi yang menganggap bahwa peneliti luar lebih bagus menceritakan soal topik A. Sayangnya, ini semakin dinormalisasi ketika tidak adanya kesempatan peneliti lokal untuk dibaca hasil penelitiannya. Meski tidak semua, hal ini nyatanya masih sering terjadi.

3. Cantik Ala Bule.

Kalau berbicara soal standar kecantikan, dari dulu hingga saat ini banyak orang yang masih menganggap putih adalah cantik. Karena putih dipandang sebagai sesuatu yang bersih. Sementara berwarna hitam, cokelat, atau sawo matang sering dikatakan tidak cantik, bahkan kotor. Tetapi tenang, ada banyak perlawanan yang sudah banyak bermunculan hari ini. Berbagai produk kecantikan pun dibuat tidak lagi dengan satu jenis kulit saja, mengingat tingkat kekritisan masyarakat pun telah berkembang seiring waktu.

Tapi yang mau kami katakan adalah, standar cantik ini pun membuat logika-logika kolonial masih melekat. Sebab kalau menilik dari sejarah, kolonial datang tidak hanya ingin menguasai dan mengambil apa yang bisa mereka ambil di tanah kita, tetapi mereka juga meninggalkan sesuatu, berupa pemahaman yang mana yang “baik” dan yang mana yang “buruk”.

Tapi apa pun itu, selamat berulang tahun, Indonesia. Semoga tidak hanya umur kita yang panjang, tapi kenangan akan masa-masa perjuangan itu juga akan selalu hidup. Semoga setelah ini kita bisa menjadi semakin menyadari bahwa baik dan buruk sangat subjektif jika dikembalikan ke masing-masing orang. Biar tidak terjebak logika yang salah, doa terakhir yang pas adalah, semoga tidak hanya penjajah yang kini telah pergi, tetapi juga pemikiran-pemikiran keliru yang sempat lekat sama kita karena dijejali mereka.

Dirgahayu, Indonesiaku.


TAG

Tinggalkan Komentar