Tulis & Tekan Enter
Logo
images

TIRTO.ID SEBAGAI PERLAWANAN ASUMSI DANGKALNYA JURNALISME MEDIA ONLINE HARI INI

Penulis: Nurul Fadhillah S.

Agustus ini tidak hanya menjadi bulan penting bagi masyarakat Indonesia karena kemerdekaannya. Tapi juga karena lahirnya sebuah situs berita, artikel, opini, dan infografik di Indonesia bernama Tirto.id.

Mengusung berita nasional dan internasional dengan berpegangan pada analisis fakta dan data, Tirto.id menjadi pilar jurnalisme media online dengan ciri khas infografis yang ciamik. Tirto.id dimiliki oleh PT Tirta Adi Surya, pertama kali tayang di bulan Februari 2016 namun diresmikan pada 3 Agustus 2016, tepat 5 tahun yang lalu.

Nah, Unifers, kenapa sih kita penting mengenal Tirto.id ini dalam bahasan kita? Kami akan mengantarkanmu memahami bagaimana teknologi informasi dan komunikasi begitu cepat berlari dan mengapa kamu perlu untuk menyadari itu secepatnya.

Perkembangan Media Komunikasi Massa Membuat Banjir Informasi

Banjir informasi adalah sebuah istilah yang menandakan bahwa hari ini, kalau kamu searching di mesin pencari, kamu akan menemukan banyak sekali informasi untuk 1 kata kunci yang kamu masukkan. Ketika informasi membanjir seperti ini, kamu akan dibuat kebingungan informasi mana yang harus kamu percaya. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, seperti yang mana sih informasi yang valid? Informasi valid itu indikatornya apa? Tentu saja akan bermunculan.

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan media komunikasi massa yang pesat menghadirkan konsekuensi tertentu, banjir informasi sampai membuat pembacanya bingung. Salah satu media komunikasi massa yang berkembang adalah media baru, dalam hal ini mari kita membicarakan tentang jurnalisme media online.

Portal Media Online: Penghamba Iklan?

Unifers, kamu mungkin sering menemukan berita online yang judulnya berbeda jauh dengan isinya, bukan? Tidak jarang pula kamu tentu pernah melihat judul-judul artikel online yang bombastis, membuat penasaran, dan tentunya membuatmu ingi segera meng-klik-nya.

Hal semacam ini sebenarnya lumrah jika kita bicara bagaimana logika media online bekerja. Kalau di media konvensional seperti televisi mereka akan melihat rating acara, seberapa banyak penonton, lalu menjualnya pada iklan, di media online mereka akan mengandalkan jarimu untuk meng-klik artikel yang mereka punya. Semakin banyak klik yang masuk, semakin banyak uang yang mengalir. Tidak heran kamu akan menemukan judul-judul aneh.

Kehadiran Tirto.id

Seperti yang dikutip dari situs resminya, Tirto.id lahir karena banyaknya asumsi soal jurnalisme media online yang kental, jurnalisme asal mengundang klik, banyaknya halaman yang dibuka, lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca. Tirto.id mengatakan, kita semua akan berpikir bahwa di dunia ini gerak dan manfaat muskil berbaur karena faktor inheren masing-masing.

Menurut Tirto.id, pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Di alam, air menunjukkan bahwa hal-hal ini tidaklah bertentangan. Air mengalir, mengisi ceruk, sekaligus jernih—menunjukkan kedalaman. Air selalu dibutuhkan. Mencita-citakan jurnalisme yang demikian, membuat Tirto.id memilih namanya, sebagai alternatif dari pengucapan tirta, yang berarti air. Selain sebagai bentuk rasa hormat kepada Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers sekaligus Pahlawan Nasional.

Hingga hari ini, Tirto.id bersama dengan awal yang berpengalaman dan terampil di bidang ilmu-ilmu sosial, penulisan jurnalistik, riset, dan olah statistic, memilih laju di rel jurnalisme presisi. Memanfaatkan data berupa foto, kutipan, rekaman peristiwa, serta data statistik yang ditampilkan baik secara langsung maupun lewat infografik dan video infografik. Produknya dilengkapi pula dengan hasil analisis ratusam media massa dari seluruh Indonesia yang disarikan dalam bentuk tiMeter (pengukuran sentiment) atas tokoh, lembaga, serta kasus yang dibicarakan dalam tiap laporan mendalam.

Unifers, hadirnya Tirto.id seperti memberi nyawa baru bagi jurnalisme media online yang sering dipandang sebelah mata. Jadi sekarang kalau kamu mau membaca informasi valid, kamu sudah tahu di mana harus menemukannya, bukan?


TAG

Tinggalkan Komentar